
PATUNG LORO BLONYO DALAM KONTEKS KOSMOLOGI JAWA
Oleh
Slamet Subiyantoro
Abstract
Kata kunci : loro blonyo, senthong, cosmology
Abstrak
Selama ini patung loro blonyo sering dibahas dalam konteks sebagai karya seni yang otonom. Kajian pada umumnya diarahkan pada pembahasan terhadap aspek visual kesenirupaan yang menempatkan struktur bentuk sebagai fokusnya. Pada sisi lain pembahasan mengenainya masih berkisar pada kajian lebih bersifat profan. Tulisan ini menjelaskan posisi patung loro blonyo dalam konteks kosmologi Jawa yang lebih bersifat mistik. Keberadaan patung loro blonyo ditempatkan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan rumah tradisional joglo, di ruang yang disucikan, disakralkan yaitu di krobongan senthong tengah dalem. Dalam pandangan hidup orang Jawa patung tersebut dimaknai sebagai simbol ajaran sangkan paraning dumadi, suatu ajaran tentang asal muasal dan tujuan akhir suatu kehidupan manusia.
1. Pengantar
Sebagai bentuk kebudayaan, seni patung memiliki fungsi dan makna tersendiri bagi masyarakat dimana patung tersebut berada (Boas, 1955). Bukti-bukti arkelologis peninggalan masa Hindu di Jawa Tengah ditemukan patung dewa-dewi, pasangan Ciwa dengan Laksmi. Mitos ini menggambarkan bahwa di tengah-tengah masyarakat budaya Jawa ada keyakinan, bahwa manusia itu keturunan dewa (Hadiwijono, 1983: 22). Peninggalan berupa artefak, seperti relief, arca, dan patung, pada dasarnya merupakan perwujudan pandangan masyarakat pada zamannya, yang ditampilkan sebagai simbol, atau lambang sebagai sarana untuk ritual yang bermakna religius (Yudoseputro, 1993: 76-77).
Dibandingkan dengan arca-arca sebelumnya, patung loro blonyo yang merupakan salah satu jenis seni patung tradisional-klasik di Jawa, tampilannya masih menunjukan ciri-ciri pasangan laki-laki, dan perempuan yang berkaitan pula dengan konsepsi-konsepsi penyatuan dari pasangan yang berbeda. Memang patung ini tidak ditemukan di suatu candi sebagaimana patung atau arca masa prasejarah, ataupun masa Hindu-Budha, namun patung loro blonyopriyayi Jawa yang disebut joglo (Darsiti, 1989: 29). Satu hal yang sangat berbeda dengan patung loro blonyo produk baru, terletak pada cara penempatan patung tersebut, bentuk patung, dan juga fungsinya. ditemukan pada rumah-rumah milik Pangeran atau
Tidak seperti patung loro blonyo model sekarang, kalau dilihat penempatannya tidak lagi terikat oleh kaidah normatif, bentuknya sudah “distorsi”, dan gaya patung cenderung mengekpresikan kesan jenaka, serta fungsinya yang bersifat profan (Guntur, 2000). Patung loro blonyo tradisional penempatannya hanya dalam konteks di depan krobongan (Negoro, 2001: 12), serta bentuknya merupakan manifestasi simbolik, dan tampilannya menganut kaidah normatif, karena memang dikaitkan dengan fungsi ritual.
Satu sisi yang menarik adalah bahwa patung loro blonyo diletakkan pada ruang tertentu. Bagi orang Jawa tempat tersebut dinilai sebagai ruang sakral di antara tempat yang lain dalam suatu rumah tradisional Jawa. Hal lain yang juga mendorong keiingintahuan lebih jauh, ialah bahwa ruang yang disakralkan tersebut, bagi rumah rakyat kebanyakan yang disebut petanen atau pasren, merupakan tempat menaruh untaian padi, yang dibentuk sepasang menyerupai mantenan dan orang Jawa menyebutnya mbok Sri (Suhardi, 2004: 66). Di depan ruang petanen yang juga disebut krobongan itu, setiap ritual perkawinan tradisi Jawa dilangsungkan biasanya digunakan sebagai tempat sepasang temantin melangsungkan prosesi kacar-kucur atau menerima kekayaan (Batawidjaja, 2000: 116).
Pada posisi inilah patung loro blonyo keberadaannya menjadi semakin jelas, ia tidak berdiri sendiri, bukan sebagai simbol yang terpisah, bahkan keterkaitan antara unsur satu dengan yang lain tampak saling bertalian. Persoalan itulah yang menarik untuk diselidiki lebih jauh, kaitan makna patung loro blonyo dalam konteks kosmologi Jawa. Ketertarikan akan tema itu, juga karena terdorong oleh suatu kenyataan terhadap kekhasannya dalam menempatkan patung loro blonyo secara berpasangan, sebab dalam pandangan orang Jawa, hal tersebut bertalian erat dengan konteks kosmogoni (Suhardi, 2004: 68). Keyakinan terhadap konsep kosmogoni masih menjadi kepercayaan sebagian masyarakat Jawa yang meyakini secara mitos, asal-usul suatu kehidupan yang bertalian dengan konsepsi perkawinan dari fenomena pasangan-pasangan, seperti pula tercermin pada patung loro blonyo tersebut.
Ketertarikan untuk mendalami simbolisme patung loro blonyo, juga didasarkan pada keprihatinan atas penelitian-penelitian terdahulu yang tertuju, hanya pada permasalahan unsur-unsur seni rupanya. Unsur-unsur yang dikaji berkutat pada soal perkembangan bentuk-bentuk patung loro blonyo (Rushartono, 1996; Umiyatsih, 2000), dan masalah teknik yang menyangkut proses pembuatannya (Nurkhasanah, 2002), maupun hubungan antara kedua tema kajian yang dikaitkan dengan fungsi patung loro blonyo dalam konteks pasar (Guntur, 2000). Hal terakhir inilah yang sekarang banyak dipersoalkan. Pada umumnya kajian masih belum mengkaitkan dengan konteks latar belakang sosial budaya Jawa. Masalah-masalah yang lebih ideasional simbolik, dan juga persoalan nilai instrinsik suatu patung yang melebihi dari sekedar wujud semata tidak banyak dibahas.
Maka kajian secara mendalam patung loro blonyo dalam konteks tradisional menjadi penting untuk dilakukan, terutama untuk menggali nilai-nilai simbolis-filosofis yang mencerminkan pandangan-pandangan hidup orang Jawa. Dengan demikian permasalahan pokok yang akan dibahas adalah bagaimana pandangan hidup orang Jawa dalam menafsirkan patung loro blonyo yang ditempatkan pada senthong tengah dalam struktur rumah tradisional Jawa.
2. Konsep dan Pendekatan
Loro blonyo dapat didefinisikan sebagai sepasang patung yang terbuat dari bahan kayu, yang terdiri dari patung seorang perempuan (rara) yang didampingi seorang laki-laki dengan mengenakan busana perkawinan adat Jawa, gaya basahan dalam posisi duduk, yang penempatannya pada rumah joglo, yaitu tepatnya di senthong tengah, atau di sebelah kanan, dan kiri krobongan yang berfungsi simbolis bagi pemiliknya (Darsiti, 1989: 208; Santoso, 2000: 88). Dalam konteks ini jelas bahwa seni patung bukan sekedar kesatuan bentuk yang tersusun oleh garis, bidang, warna, teksture dan value yang besifat keindahan visual semata.
Patung ini merupakan salah satu kelengkapan dari unsur-unsur lainnya yang biasa ditempatkan di ruang senthong tengah yang sakral, lazimnya digunakan sebagai sarana untuk melakukan kegiatan ritual adat Jawa (Sunyoto, 1995: 24; Widayat, 1988: 84). Gaya pakaian basahan yang dihiaskan pada patung laki-laki meliputi kuluk kanigara, sabuk, keris, gelang kelat bahu naga, dodot, timang, korset dan sumping ron. Asesoris yang dihiaskan pada patung perempuan terdiri dari mentul, jungkat pananggalan, sangsangan tanggalan sungsun telu, sumping, kelat bahu naga, kemben, setagen, kamus, timang, sedangkan kain yang dikenakan keduanya adalah batik klasik tradisional (Guntur, 2000: 145-148; Setyawan, 2001: 45).
Konsep kosmologi dalam pembahasan ini diartikan sebagai kepercayaan, asumsi orang tentang alam (cosmos), termasuk di dalamnya makluk-makluk, dan kekuatan-kekuatan yang mengendalikannya, bagaimana organisasi alam semesta itu, apa peranan dan tempat manusia di dalam alam (Cremers, 1997: 137). Menurut Ronald (1993: 2-8), ada empat unsur kosmologi budaya Jawa yang dapat digunakan untuk memahami kebudayannya, yaitu: kepercayaan, mitos, norma-norma, dan pandangan hidup. Unsur-unsur kosmologi budaya Jawa tersebut berkaitan erat dengan filsafat Jawa. Hal ini tercermin pada ciri-ciri yang melekat pada masyarakat Jawa. Ciri-ciri masyarakat tersebut antara lain tampak pada anggapannya bahwa konsep kosmologi merupakan hal yang penting dalam hidupnya; penyampaian gagasan yang diungkapkan melalui simbol-simbol dan percaya terhadap kekuatan-kekuatan supranatural; serta keterlibatannya dalam kegiatan religi (Kartono, 1997: 5).
Satu hal yang terkait erat dengan konsep kosmologi adalah kosmogoni. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa kosmogoni berasal dari kata cosmogony yang artinya asal-usul alam semesta (Haryono, t.th.: 109). Konsep yang senada disebutkan bahwa kosmogoni pada dasarnya adalah keyakinan, serta konsepsi manusia tentang terjadinya alam, dan dunia (Koentjaraningrat, 1984: 43). Dari beberapa kutipan tersebut kiranya jelas bahwa konsep kosmogoni adalah konsepsi tentang asal muasal alam semesta secara mitos, termasuk alam manusia yang terkait di dalamnya yaitu konsepsi kelahiran.
Dalam memahami tema secara menyeluruh, konsep patung diletakkan sebagai simbol dalam konteks bagian dari struktur rumah joglo. Pembahasan terhadap makna simbolik sebagai fakta budaya, mengacu pada konsep seorang filsuf, Ernest Cassirer yang menyatakan bahwa manusia adalah animal symbolicum. Manusia hidup tidak dapat dilepaskan dengan alam semesta simbolis. Pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi, dan seluruh kemajuan kebudayaan manusia selalu mendasarkan diri pada simbol (Cassirer, 1944: 41).
Maka dalam memahami makna loro blonyo digunakan konsep kebudayaan yang dikembangkan Clifford Geertz, menurutnya kebudayaan sebagai: (1) sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol, yang dengan makna dan simbol tersebut individu-individu mendifinisikan dunia mereka, mengekpresikan perasaan-perasaan mereka, dan membuat penilaian mereka, (2) suatu pola makna-makna yang ditransmisikan secara historis yang terkandung dalam bentuk-bentuk simbolik, yang melalui bentuk-bentuk simbolik tersebut manusia berkomunikasi, memantapkan dan (3) mengembangkan pengetahuan mereka mengenai, dan bersikap terhadap kehidupan, peralatan simbolik bagi mengontrol perilaku, sumber-sumber ekstrasomatik dari informasi, dan (4) oleh karena kebudayaan adalah suatu sistem simbol, maka proses kebudayaan harus dipahami, diterjemahkan dan diinterpretasi (Saifudin, 2005: 288).
Satu model penjelasan yang bisa mengungkapkan makna dan nilai adalah pendekatan simbolik, yang juga disebut telaah interpretatif (Ahimsa-Putra, 2000: 402). Pendekatan interpretatif merupakan usaha menafsirkan fenomena sebagai sebuah “teks” yang dapat dibaca, sehingga kebudayaan yang di dalamnya lengkap dengan berbagai unsur-unsurnya seperti simbol dan makna, dapat dilihat sebagai teks (Schechner, 1988). Teori simbolik Clifford Geertz (2000) yang mengasumsikan bahwa kebudayaan adalah jaringan simbol-simbol yang bisa dianalogikan sebagai teks, ditafsirkan untuk memecahkan teka-teki, memberikan pencerahan terhadap sebuah pengertian, atau hubungan pokok yang mendasar dari suatu teks yang semula tampak kabur, terpisah dan berlawanan kemudian menjadi semakin jelas, utuh dan menyatu (Rabinow, dan Sullivan, 1967: 20-25). Melalui model penjelasan interpretatif-simbolik, sesuatu yang ada di balik teks-teks yang ditelaah harus ditafsirkan makna simbolisnya. Karena menurut F.W. Dillistone (2002: 28), makna simbolis suatu obyek sering tersembunyi di balik tampilan yang dinyatakan, maka makna suatu teks harus ditafirkan, dijelaskan secara mendalam (thick description).
3. Bentuk dan Simbolisme Asesoris Patung Loro Blonyo
Bentuk patung dapat dijelaskan dalam struktur tiga bagian. Bagian pertama terletak pada sisi atas yaitu kepala, bagian tengah adalah badan maupun anggota lain seperti kedua tangan, sedangkan bagian bawah meliputi kedua kaki. Patung loro blonyo laki-laki bagian atas tampak asesoris yang dikenakan berupa tutup kepala, yang biasa disebut kuluk kanigara berwarna hitam dikombinasi garis warna kuning disusun secara tegak dan mendatar secara melingkar. Kuluk yang dikenakan benar-benar merupakan kuluk sebagaimana aslinya, bukan bagian dari bahan kayu yang direka dengan sapuan warna.
Bentuk cambang tampak rapi dan rambut warna hitam lurus bergelung halus dengan asesoris konde warna keemasan yang terbuat dari bahan tembaga. Pandangan mata terkesan sayu menatap lurus ke depan dengan posisi kepala tegak. Penampilan alis tampak tebal dengan garis tegas berwarna hitam melingkar mengikuti bentuk mata. Bentuk hidung mbongkok sumendhe, tidak mancung namun tidak pula pesek, sedangkan bentuk bibir tipis bergincu warna merah. Bagian leher tampak mengenakan kalung asli menyerupai rantai kecil berwarna mirip emas dilengkapi mendalion, dengan ukuran memanjang hingga sampai pada pinggang.
Bagian tengah tercermin pada bentuk tangan dengan sikap ngapu rancang, di pergelangan terdapat gelang warna keemasan. Bagian tengah badan tampak kelengkapan busana seperti setagen yang dikenakan, ujungnya berwarna bermacam-macam ada merah tua, merah muda, hijau dan putih. Untuk mengencangkan dan memperindah setagen digunakan sabuk melingkar berwarna kuning keemasan, kombinasi warna coklat muda dan putih penuh dengan hiasan motif geometris detil kecil-kecil. Bagian pinggang belakang ada asesoris keris warna coklat, baik pegangan maupun tempat keris terbuat dari bahan kayu jati. Keris dan warangkanya bukan merupakan kesatuan bahan kayu dari patung tersebut, melainkan wujud asli keris yang diselipkan di dalamnya
Bagian bawah patung tercermin pada bentuk dan sikap kaki. Posisi duduk bersila dengan telapak dan jari-jari yang diperlihatkan. Kebaya yang dikenakan motif batik kawung (parang rusak) warna coklat muda dilengkapi kombinasi warna keemasan.
Bentuk patung loro blonyo perempuan bagian atas tampak pada pandangan mata sayu dengan posisi sedikit menunduk. Goresan alis warna hitam tebal demikian pula ditemukan garis mata bagian atas warna hitam. Pada dahi terdapat hiasan paes warna hijau. Bentuk rambut gelungan dilengkapi mahkota bagian atas, mengenakan cunduk mentul batangnya warna kuning divariasi warna hijau. Bagian samping gelungan ada hiasan warna keemasan terbuat dari bahan kuningan-tembaga. Pada bagian telinga tampak mengenakan subang bulat yang ditempel dengan warna keemasan dan putih (permata). Bagian leher mengenakan kalung rantai dominan warna emas dengan bandul besar bertingkat tiga berhiaskan rumit, tampak indah dan terkesan mewah.
Struktur bentuk bagian tengah tampak sikap telapak tangan menempel paha, suatu sikap hormat yang dilakukan wanita Jawa pada umumnya. Kedua tangan mengenakan gelang asli berwarna keemasan. Bagian dada mengenakan kemben warna dominan hijau, kuning, merah dan keemasan untuk mendukung motif pecahan kawung. Bagian perut dikenakan setagen dominan warna hijau dan kontur ornamen warna keemasan. Setagen dilengkapi ikat pinggang warna keemasan di tengahnya terdapat asesoris berbentuk bulat penuh dengan ornamen berwarna putih perak.
Bagian bawah tampak kaki dengan sikap timpuh kelihatan telapak dan jari kaki kanan dan kaki kiri. Kebaya yang dikenakan bermotifkan kawung warna coklat muda kombinasi warna keemasan.
Secara keseluruhan warna sepasang patung pada kulit adalah kuning keemasan ada sedikit unsur warna agak coklat tua, mencerminkan luluran warna khas mantin Jawa. Struktur bentuk patung dimodifikasi dengan teknik finishing yang tuntas dan rapi dengan pewarnaan yang matang. Proporsi antara bagian kepala, anggota badan dan badan serta bagian bawah tampak sebanding. Pengolahan bentuk pada setiap unsur pada susunan bagian atas, tengah dan bawah menunjukkan kecermatan anatomis. Dari segi ekspresi kedua patung menyiratkan sinar kepribadian sepasang pengantin adalah khas Jawa, tampak pandangannya yang bijaksana dengan sikap penuh hormat yang mencerminkan kesantunan. Dengan demikian figur sepasang patung loro blonyo mencerminkan tampilan realis, menyerupai struktur dan bentuk manusia layaknya. Unsur-unsur yang ditampilkan baik bentuk, ekspresi wajah, jenis esoris, warna, kesan bahan dan sikap anggota badan, secara keseluruhan menggambarkan pesan simbolis kemewahan dan kemegahan seperti tercermin pada dominan warna keemasan di sana -sini.
Beberapa bentuk hasil rias yang dikenakan pengantin sebagaimana tercermin dalam patung, memiliki makna-makna simbolis yang sifatnya untuk tujuan yang mulia, berupa harapan kedua pasangan setelah menjalani peristiwa sakral yaitu ritual panggih.
Paes pada patung wanita berbentuk bulat, berwarna hijau melekat pada dahi pangkal alis bulat menyerupai bentuk gajah, sehingga sering disebut paes gajah. Binatang gajah dimaknai sebagai titianing priyantun luhur, sehingga diharapkan anak yang diturunkan nanti menjadi putra atau putri yang memiliki kedudukan luhur atau tinggi. Maka perwujudan paes gajah terkesan kuat, kokoh, merupakan gambaran serba tinggi, luhur ataupun mulia.
Bentuk paes yang lebih kecil, terletak pada sebelah kanan dan kiri paes gajah dengan ujung menghadap ke pangkal alis, biasa disebut pengapit atau pendamping, menggambarkan simbol yoni pendamping yang baik, yang dalam hal ini simbol wanita adalah seorang ibu Jawa. Paes rias selebihnya berbentuk penitis, terletak pada kanan kiri pengapit dengan ujung menghadap ke alis, merupakan simbol seorang laki-laki yaitu bapak, melambangkan simbol lingga, dalam istilah kejawen disebut juru hanitisaken wiji yaitu dari seorang pria. Bentuk rias pengapit dan penitis yang menghiasi pada dahi patung wanita adalah simbol lingga dan yoni atau lambang laki-laki dan perempuan, keduanya adalah dwitunggal.
Bentuk rias pengantin perempuan yang lain adalah godheg, berbentuk ngudhup turi perlambangan dari anak, yaitu keturunan dari manunggalnya pengapit dan penitis. Bersatunya kehidupan ibu dan bapak atas kehendak Gusti Ingkang Maha Kawasa lahirlah keturunan si jabang bayi yang kemudian menjadi manusia yang hidup di masyarakat.
Dalam tata busana pengantin gaya basahan sebagaimana adat Jawa dengan demikian memiliki fungsi fisik, artistik dan psikologis yang mengikat satu sama lain dan tidak dapat diubah menurut seleranya sendiri melainkan sudah pakem. Gaya busana basahan bagi orang Jawa biasa pula disebut ngligo sariro, suatu busana ageng yang bermakna sumarah marang Gusti, pasrah badan sakojur saking ngandhap dumugi inggil. Suatu gambaran sikap pasrah seorang perempuan kepada suami sebagai pencerminan bentuk bakti dan kesetiaan dalam mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga. Bentuk hormat juga tercermin pada posisi duduk bersila (depokan) dan sikap tangan ngapurancang. Sikap tersebut merupakan khas Jawa dijumpai dalam interaksi di lingkungan Keraton maupun dalam acara adat Jawa, khususnya pada upacara perkawinan.
Beberapa busana dan asesoris yang dikenakan pengantin putri antara lain mengenakan kain dodot difungsikan sebagai kemben, ada dua jenis dodot, yaitu jenis gadung melati dan bangun tulak keduanya bedanya pada warna. Gadung melati berwarna dasar hijau tua, bangun tulak berwarna dasar biru tua. Gambar kain penuh pohon dan hewan hutan dilukis sederhana dengan perada mas, merupakan simbol kehidupan hutan dan hewan-hewan. Dalam kain tersebut di tengahnya terdapat segi tiga warna putih yang disebut blumbangan pada garis tepinya berbentuk gelombang. Bagian sampingnya terdapat gambar pohon, air, binatang, tanah dan gunung. Tanah merupakan warna dasar yang bermakna bumi. Sedang gunung digambarkan dalam bentuk segitiga yang dikelilingi pohon, jadi makna keseluruhan adalah menunjukan bumi dan segala isinya sebagai ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Mengenakan pula kain cindhe merah campur disebut udhet artinya sampur sebagai perlengkapan busana putri, untuk putra disebut sonder, motifnya puspito lambang kekayaan alam beserta keindahannya.
Makna bentuk sanggul bokor mengkurep, merupakan bentuk yang diumpamakan lingkaran bokor terbalik, jika dibalik tidak ada isinya atau kosong . Bentuk ini menggambarkan keadaan penari sakral, sebagaimana diumpamakan seperti semua penari bedhaya ketawang adalah seorang gadis yang masih suci dan perawan. Perhiasan sanggul di tengah bokor mengkurep berupa garuda mungkur, Bahannya emas dan intan berlian simbol dari sesuatu yang tangguh dan kuat, yang tidak terlepas dari sikap mawas diri dengan menoleh ke belakang, makna persekutuan manunggaling kawula lan Gusti.
Asesoris yang mengelilingi sanggul sejumlah sembilan terbuat dari emas disebut menthol. Bentuknya bervariasi, ada satu bentuk kupu besar berhias batu permata biru, ada dua bentuk bunga seruni berhias permata intan, dua bentuk kupu kecil berhias permata biru, dua bunga sokan bermata intan, dua penanggalan bulan sabit lambang kekayaan alam dalam kehidupan semesta raya. Dalam konteks ini mengandung harapan sebagai makluk hidup harus senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Artinya manusia Jawa senantiasa menyelaraskan dengan alam semesta sebagai bagian hidup yang tidak terpisahkan.
Perhiasan rambut yang menyerupai sisir disematkan di kepala dalam sebutan orang Jawa disebut cunduk jungkat. Bentuk bulan sabit lambang darah bangsawan, dan bisa tanda kesucian. Masih pada bagian rambut ada tiba dada, berupa untaian bunga melati panjang dan masih bentuk kuncup belum mekar merupakan lambang perasaan tepa selira. Orang Jawa menyadari bahwa sebagai makluk hidup yang berdampingan dengan orang lain harus saling menjaga, menghormati dan menghargai satu sama lain sehingga diperoleh keserasian dan keseimbangan.
Kalung penanggalan berbentuk bulan sabit di gantung pada leher. Bahan kalung dibuat dari emas dan perak penuh dengan ukiran dan beberapa permata, lambang kemakmuran sandang dan pangan. Dalam konteks asesoris tarian sakral seperti bedhaya ketawang, kelengkapan hiasan tersebut menggambarkan perkawinan yang diharapkan akan menghasilkan kesuburan.
Kelat bahu, perhiasan gelang pada pangkal lengan kiri kanan. Bahan emas dengan ornamen sulur-suluran berbentuk kupu simbol kegadisan, perjaka atau lambang seorang kesatria yang sudah beristri atau belum. Dalam konteks Keraton merupakan lambang menjalankan tugas negara, atau juga sebagai tameng lengan dalam busana keprajuritan untuk menangkal serangan musuh.
Asesoris lain yang dipasang di tangan berupa gelang. Gelang perhiasan yang dipakai pada pergelangan tangan kiri kanan, dari bahan emas dan perak. Gelang ini selain sebagai perhiasan tetapi dalam konteks keprajuritan difungsikan sebagai sarana memudahkan gerak tombak atau perisai diri/ tameng pergelangan tangan. Dengan demikian makna gelang selain untuk keindahan juga menangkap serangan dari lawan atau lambang keberanian.
Hiasan pelengkap lainnya adalah cincin, dipasang pada jari tangan. Cincin merupakan simbol atau cermin kehidupan, bahwa dalam menjalani hidup jangan sampai meninggalkan kebaikan. Bahan cincin terbuat dari batu permata, melambangkan seperti halnya kehidupan dunia bahwa suatu yang hakiki bukanlah gemerlapnya intan, melainkan hikmah dari cahaya yang terang tersebut. Dengan kata lain petunjuk yang benar dalam hati merupakan dambaaan hidup yang sejahtera penuh dengan keselamatan.
Subang, dikenakan pada telinga berbentuk bunga, terbuat bahan perak dengan sembilan batu permata, melambangkan salah satu kekayaan alam di langit atau angkasa raya yaitu gemerlapnya bintang-bintang.
Pada patung laki-laki mengenakan celana cinde motif kotak kecil, warna merah dengan hiasan bunga kecil dalam tiap kotak berwarna coklat tepi sudut kotak dihiasi motif geometris warna biru dikenakan sebatas mata kaki. Lalu jarik dikenakan sebatas lutut dengan motif parang gondosuli, motif berbentuk pisau dan gabungan motif garuda. Ikat pinggang warna hitam dengan timang di tengah berwarna kuning. Timang melambangkan peringatan manusia agar dapat mengendalikan nafsu birahi. Penutup kepala hiasan bergaris kuning, di atas kuluk terdapat nyamat bentuk kuncup cengkih.melambangkan keunggulan atau kesaktian.
Telinga dihiasi dengan sumping berwarna kuning melambangkan kemauan yang sudah bulat. Kalung susun tiga berwarna kuning melambangkan lingkaran hidup individu terdiri tiga tahapan yaitu hidup kemudian kawin dan akhirnya mati. Kelat bahu berwana kuning dikenakan pada pangkal lengan, dipercaya sebagai simbol untuk menolak mara bahaya. Gelang tangan warna kuning di kenakan tangan kanan melambangkan kelanggengan atau keabadian.
Dalam hal jarik atau busana lain yang dikenakan biasa dijumpai motif batik khas Jawa yang mengandung pesan simbolik seperti dinyatakan pada bentuk ragam hiasnya. Dalam pandangan hidup orang Jawa motif batik sebagaimana tercermin pada ornamen memiliki makna tertentu. Sebagai misal meru, ia melambangkan gunung atau tanah yang juga disebut bumi. Api atau lidah api melambankan nyala api yang disebut dengan agni atau geni, sedangkan ular atau naga melambangkan air atau juga cinta, kemudian burung melambangkan angin maruto dan burung garuda melambangkan mahkota atau penguasa tinggi yaitu jagad raya dan isinya. Keempat anasir juga ditemukan dalam anasir wadhag manusia, dengan demikian memiliki unsur sama. Sifat kosmologis ini menjadi bagian pandangan hidup orang Jawa yang bersifat mistik yang meliputi anasir bumi, air, api dan angin, merupakan gambaran kesuburan yang selalu didambakan untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Dengan demikian bentuk dan simbolisme asesoris pakaian resmi pengantin Jawa sebagaimana terwujud dalam patung loro blonyo yang melambangkan harapan luhur itu, merepresentasikan kedudukan seseorang pada status tinggi atau priyayi. Peran tersebut tergambarkan pada tampilan kedua pasangan mantin yang diposisikan sebagai Raja sehari, ibaratnya sebagai penguasa. Konteks ini seperti disebutkan sejarawan, bahwa status kepriyayian Jawa sebagai penguasa pemerintahan sering dinyatakan pada pakaian resmi yang dikenakan serta perlengkapan upacara pada penampilan resmi (lihat Katodirdjo, 1987: 38).
4. Simbolisme Loro Blonyo dalam Struktur Senthong Tengah
Dalam konteks tradisi, patung loro blonyo ditempatkan pada senthong tengah, struktur ruang dalem bagian belakang dalam rumah joglo. Di antara suasananya yang dianggap suci, senthong tengah merupakan pusat tempat paling suci dari kedua senthong lainnya. Kedua patung diposisikan berpasangan sejajar menghadap ke selatan dalam senthong tengah dihiasi berbagai unsur kelengkapan. Unsur yang terdapat di ruang senthong tengah bermacam-macam, ada dipan lengkap dengan bantal, guling serta kasur, dan pelengkap lainnya sebagai satu kesatuan simbol utuh.
Dipan merupakan tempat tidur barada dalam suatu ruang bangunan bentuk atab limasan dengan disangga empat tiang yang dihias indah, dilengkapi kelambu pada sisi kanan - kiri, belakang dan depan. Pada dipan dilengkapi kasur dibalut kain seperti sindhur warna bangun gadhung mlati hijau sleret putih dan warna bangun tulak biru sleret putih, warna ini dipercaya sebagai tolak balak seperti sakit atau musibah. Di Keraton lapisan kain penutup kasur berhiaskan motif sidaluhur atau sidamukti, suatu harapan agar hidup bahagia dan terhormat. Bagian ujung utara disusun beberapa bantal dan tumpukan guling membubung ke atas, sedangkan bagian kiri dan kanan masih diberi guling ukuran besar dan kecil disusun secara berpasangan. Sebelah kanan dipan agak ke belakang ditempatkan beberapa pusaka seperti tumbak dan keris, menunjukkan bahwa senthong tengah adalah tempat yang dikeramatkan dan disucikan, sehingga suasana tampak sakral.
Mengenai kaitan antara situasi sakral di senthong tengah dengan konteks yang lebih luas berikut pernyataan Gusti Mung seorang putri PB XII:
“Bangunan di senthong yang namanya krobongan itu tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Kanjeng Kyai Loro Blonyo. Di sana itu ada hubungannya dengan keselamatan dan kesejahteraan. Kamu mungkin baru tau kalau pada kasur itu bukan untuk tidur sehari-hari, tapi khusus untuk tidur manten. Kasurnya itu isinya tidak seperti umumnya, memang ada kapas tetapi dicampur hasil-hasil pertanian misalnya padi, kacang, tebu, terus di bawahnya itu diberi alas godhong kluwe, godhong dhadhap serep. Pada kasur dibalut dengan lapisan kain penutup motif sida luhur, sidamukt. Teturon iku kanggo nitisne wiji, saya kira simbolisnya begitu”.
Pernyataan di atas menunjukkan krobongan merupakan tempat yang menggambarkan harapan kesuburan tanaman dan kesuburan keturunan yang berujung pada kesejahteraan hidup. Kesuburan tanaman tercermin pada berbagai hasil pertanian, sedangkan kesuburan keturunan tampak pada krobongan sebagai tempat penyatuan untuk menurunkan wiji atau benih keturunan. Kesemuanya itu dimaksudkan sebagai sarana menuju hidup yang sejahtera seperti disimbolkan dalam bentuk motif kain sidomukti maupun sidomulya.
Tepat di depan dipan ditempatkan sepasang patung loro blonyo laki-laki dan perempuan. Patung ini merupakan simbol atau lambang bukan semata-mata sebagai pajangan untuk keindahan ruang saja, berikut kata pengamat budaya tinggal di Yogyakarta, K.R.T Wisesa. Bagaimana orang Jawa memaknai loro blonyo, tanyaku? Menurutnya patung hanyalah lambang. Ia mengandung nasehat yang tinggi dalam alam pikiran Jawa. Dalam bahasa sekarang ia menggugat pada Tuhan di depan ruang yang sakral, tempat meminta pada Tuhan. Dimaksudkan supaya keinginannya tercapai yaitu murah rejeki dan hidupnya tentram penuh dengan keselamatan. Atau menurut istilah informan tersebut “Minangka kanggo maneges (demo) kaliyan ingkang Maha Kuwasa, maneges ing mriki temtu kemawan maneges raos. (sarana untuk komunikasi dengan Tuhan, komunikasi di sini yang dimaksud adalah batin (rasa).
Fungsi patung tersebut menurut Ngadiman, pemilik patung loro blonyo, pelaku kesenian pertunjukkan tradisional, yang juga disebut-sebut sebagai orang pinter menyebutkan:
Pasangan patung loro blonyo iku kanggo patuladhan tumrap pasangan yang awet, yaiku atut runtut, nganti tumeka kaken-kaken inen-inen utawa langgeng lan bisa slamet uripe, rejeki tansah mulur ora kendhat. Tegese menawa gayutane karo bab anak, wong mau bakal diparingi keturunan sing akeh, amarga nek anake akeh rak rejekine ya lir gumanti dadine akeh. Upama bab tetanduran tansah bisa panen hasile awet terus, bisa turah-turah. Uga kanggone wong bebakulan bisa laris lan hasile mengko bisa turun temurun tumuka anak putu.
Pasangan patung loro blonyo merupakan contoh pasangan abadi, serasi, harmonis, hidupnya selamat dan rejekinya terus mengalir tanpa henti. Artinya kalau itu berkaitan dengan anak orang itu akan diberi anugerah keturunan yang banyak, karena kalau anaknya banyak rejekinya juga banyak. Kalau berhubungan dengan tanaman bisa memporoleh panen yang hasilnya berlimpah. Untuk orang yang dagang bisa laris sehingga hasilnya bisa diturunkan ke anak cucu.
Pernyataan di atas membuktikan bahwa patung loro blonyo bukanlah sekedar benda tanpa makna, ia difungsikan sebagai benda bertuah, sarana untuk mencapai harapan seperti rejeki dan kesejahteraan pemiliknya. Dengan demikian loro blonyo menjadi lambang cita-cita yang dipedomani dimana nilai instrinsiknya dipercaya sebagai sumber kekuatan spiritual.
Di antara kedua patung loro blonyo di senthong tengah, ada berdiri menjulang ke atas digunakan sebagai tempat lampu, biasa disebut lampu juplak. Di keraton lampu ini tidak pernah mati, lampu ini dimaknai sebagai nafas kehidupan. Jika dikaitkan dengan isi Serat Jitapsara dipercaya sebagai asal mulanya dunia. Katanya lampu itu tidak ada yang menyalakan, keajaibannya lampu tersebut menyala tanpa henti hingga lama kelamaan asapnya membentuk struktur kosmos seperti bumi, matahari, bulan, bintang dan akhirnya juga penghuni dunia itu yaitu manusia.
Sebelah kiri dan kanan patung disusun secara berpasangan bokor warna kekuningan berhias sulur-suluran berangkai meruncing mirip gunungan. Struktur bokor tersusun dalam bentuk bagian bawah mirip bebatur, bagian tengah bulat dan bagian atas meninggi. Jika dicermati struktur bentuk bokor seperti tiruan bentuk lingga yang menyatu dengan yoni, suatu lambang perkawinan.
Posisi depan agak ke kanan sedikit terdapat klemuk yang terbuat dari tanah liat. Klemuk merupakan wadhah hasil panenan berupa biji-bijian seperti beras, kacang-kacangan maupun hasil wohing kapendhem seperti mbili, uwi dan sebagainya. Struktur bentuk klemuk bagian bawah seperti bebatur dan bagian tengah bentuknya bulat seperti guci, sedangkan bagian atas ada penutup mirip kekep berbentuk gunungan di puncaknya terdapat bentuk serupa stupa. Bagian tengah yang bulat terbuka serta fungsinya sebagai tempat biji merepresentasikan simbol kewanitaan, sedangkan kekep yang fungsinya sebagai penutup lubang mengindikasikan lambang laki-laki. Tidak berbeda dengan struktur bentuk bokor, rupanya klemuk yang ditempatkan berpasangan kiri dan kanan merupakan replika penyatuan lingga dan yoni, yang diasosiasikan pula perkawinan antara laki-laki dan wanita.
Posisi sedikit ke depan dari posisi klemuk, dipasang kendi dari bahan tanah liat. Sama dengan lainnya, jumlah kendi dua disusun berpasangan kiri dan kanan. Kendi tempat air biasa dimaknai sebagai sumber kehidupan manusia. Bentuk tengah yang bulat untuk menampung air diduga sebagai lambang wanita, sedangkan pegangan kendi yang memanjang menyerupai bentuk lingga adalah representasi laki-laki. Dengan demikian struktur bentuk kendi tidak berbeda dengan klemuk dan bokor, merupakan susunan yang menggambarkan penyatuan lingga dan yoni.
Tepat posisi di depan lampu di antara kedua kendi ada tempat untuk membakar kemenyan. Bagian depan ditempatkan meja bentuk persegi ada pula yang bundar, biasa ditutup kain putih, fungsinya untuk menaruh sesaji. Sesaji diberikan setiap malem Jumat kliwon disertai kembang setaman tiga warna dimasukan dalam air disertai membakar kemenyan sambil mengucapkan mantra. Mantra yang diucapkan adalah permintaan keselamatan diri dan keluarganya dari segla mara bahaya, serta permintaan hidup sejahtaera. Mantra ditujukan pada roh nenek moyangnya, dhanyang sing baureksa dan kepada Sang Hyang Widi.
Di antara bokor, klemuk, dan di antara lampu cuplak dan tempat pembakaran kemenyan terdapat beberapa unsur ritual seperti paidon, asbak, kotak tempat uang receh dan tempat meramu jamu. Paidon dibuat dari bahan tembaga digunakan untuk tempat air ludah yang biasa melakukan nginang, semacam merokok bagi kaum wanita dengan bahan daun kinang, dicampur tembakau, gambir dan injet (sebangsa kapur yang dicairkan dengan lunak). Asbak merupakan tempat abu rokok yang biasa dilakukan laki-laki. Dalam konteks gender paidon diasosiasikan sebagai simbol wanita, sedangkan asbak merupakan simbol laki-laki. Keduanya merepresentasikan pasangan laki-laki dan perempuan.
Kotak kecil ada yang dibuat dari tembaga ada pula dari bahan kayu, difungsikan sebagai tempat kekayaan disimbolkan uang receh, sarana untuk alat pembayaran untuk memenuhi kebutuhan. Uang receh sama dengan hasil pertanian keduanya adalah simbol kekayaan atau kemakmuran, sarana untuk menuju hidup yang sejahtera. Dalam perkawinan adat Jawa hal ini erat dengan ritual kacar-kucur atau tampa kaya (menerima kekayaan), simbol suatu kesejahteraan hidup.
Kotak ramuan jamu dari hasil bumi diasosiasikan sebagai simbol kekuatan atau kesehatan baik jasmani maupun rohani. Ramuan jamu yang berdampak pada kekuatan jasmani dipercaya bisa menyebabkan seseorang bekerja giat dan tekun sehingga segala kebutuhan lahir akan terpenuhi. Tempat jamu tersebut juga melambangkan kekuatan rohani, dipercaya dengan ramuan jamu akan menambah semangat dan gairah melakukan paduan asmara antara laki-laki dan perempuan, orang Jawa menyebutnya asmaragama atau patute wong bebrayan.
Posisi di antara dua tiang dipan bagian depan digantung burung garuda. Burung ini dipercaya sebagai kendaraan Dewa Syiwa dan Dewi Sri untuk mengembara ke angkasa (dunia atas) dan turun ke bumi (dunia bawah). Dalam konteks ini burung garuda merupakan simbol penyatuan dua kosmos yaitu dunia atas dan dunia bawah, bapa angkasa dan bumi pertiwi.
Dengan demikian jika dicermati, posisi patung loro blonyo berada di tengah. Kedudukan patung diapit oleh posisi simetris unsur pasangan seperti klemuk, bokor maupun kendi pada arak timur dan barat, dan diapit antara posisi dipan pada arah barat dengan unsur kesatuan seperti asbak, paidon, kotak uang receh dan tempat jamu sebagai orientasi arah timur, merupakan peniruan struktur alam. Demikian pula dalam konteks struktur joglo, posisi loro blonyo berada dalam senthong tengah, suatu posisi yang ditinggikan, sebagai tiruan meru yaitu tempat yang disucikan, pada dasarnya merupakan replika unsur alam.
Deskripsi di atas menguatkan bahwa posisi patung loro blonyo tidak terpisah dengan konteks senthong tengah atau krobongan. Dalam krobongan terdapat struktur kelengkapan yang mendukung posisi patung loro blonyo sebagai kesatuan dengan rumah joglo. Posisi patung dan kelengkapan yang susunanya berpasangan mencerminkan konsepsi Jawa yang bersifat kosmogoni, sedangkan struktur rumah joglo dengan konteks posisi yang merupakan peniruan alam lebih mencerminkan konsepsi kosmologis. Dalam konteks ini kiranya pendapat Joseph Fischer (1994: 10) bisa diterima bahwa pasangan patung loro blonyo merepresentasikan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan lambang pangan dan suaminya Raden Sadana lambang sandang.
5. Makna Loro Blonyo : Tafsir Kosmologi Jawa
Satu kekhasan dalam rumah joglo ialah hiasan simbolik berupa sepasang patung loro blonyo. Kedua patung secara berdampingan dipasang di senthong tengah, ruang inti dalam rumah joglo. Patung merupakan simbol sepasang laki-laki dan perempuan, manifestasi bentuk tak terindera dari terindera, yang merepresentasikan Dewi Sri dan Sadana. Patung yang disakralkan tersebut dalam pemahaman mistik Jawa diyakini sebagai simbolisme figur pasangan cikal bakal orang Jawa. Loro blonyo diasosiasikan sebagai leluhur yang dikonsepsikan nenek moyang yang melahirkan orang Jawa, sehingga keberadaannya diabadikan dihormati dan diagungkan. Penampilan patung yang dihias dalam bentuk penganten dengan asesoris dan busana kebesaran menggambarkan status kehormatan, suatu tujuan bagi orang Jawa pada umumnya. Simbol patung pengantin menunjukkan suatu harapan kemakmuran, kesejahteraan hidup, dan kebahagiaan. Sepasang patung menggambarkan prinsip kehidupan harmoni, selaras dan seimbang baik secara horizontal dalam konteks hubungan sesama, maupun secara vertikal dalam konteks hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian patung loro blonyo merupakan simbolisme dwitunggal atau loro-loroning atunggal suatu sifat paradoks (lihat Caillois, 1959).
Dalam penempatannya di senthong tengah, posisi patung merupakan pancer dari unsur lain yang mewakili ke empat orientasi sebagaimana dalam struktur mandala. Sepasang patung loro blonyo bagian barat dan juga timur diposisikan unsur klemuk, paidon, dan kendi, merupakan dua orientasi seimbang kiri dan kanan yang merepresentasikan pasangan. Ketiganya, klemuk, kendi dan paidon secara wadhag merupakan imajinasi penyatuan lingga dan yoni, sedangkan isinya merupakan sumber kehidupan yaitu padi dan air. Sementara bagian utara patung terdapat dipan lengkap dengan bantal dan guling serta kasur, simbol tempat perkawinan atau penyatuan kosmis yang akan melahirkan kesuburan. Unsur-unsur dalam kasur dan bantal maupun guling tersusun berbagai tanaman seperti padi, kacang-kacangan, jagung, ketela merupakan representasi hasil pertanian, lambang kemakmuran. Bagian selatan terdapat lampu juplak, menggambarkan kehidupan, karena cahaya diyakini sebagai representasi dzat tunggal, pusat orientasi awal dan akhir kehidupan manusia. Tempat pembakaran dupa dan burung garuda adalah lambang penghubung antara sepasang patung dengan dzat yang gaib pada alam dunia sana. Burung dipercaya sebagai kendaraan menuju ke alam transenden, sedangkan asap dupa yang wangi merupakan media untuk menghubungkan cita-cita yang disampaikan melalui bacaan mantra kepada dzat gaib. Perilaku mistik tersebut tidak lain dalam upaya mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa untuk memperoleh keselamatan menuju kesempurnaan hidup dalam menuju kesempurnaan mati.
Menurut Suhardi (1989) pandangan hidup orang Jawa meyakini bahwa konsepsi dunia mencakup dunia mondial dan dunia transenden, ada lahiriah-fisik dan batiniah-rohaniah. Sebagaimana pula dalam loro blonyo merupakan simbol loroning atunggal yang mencermikan keseimbangan semesta, keduanya secara kosmogoni merupakan tiruan pasangan antara laki-laki dan wanita. Sepasang patung loro blonyo merupakan simbol untuk mempertegas konsepsi asal usul manusia baik secara lahir maupun batin. Secara lahir keberadaan manusia bermula dari penyatuan kedua orang tua yaitu ayah dan ibunya, secara batiniah adanya manusia bersumber dari dzat Yang Maha Suci. Dzat Yang Maha Suci merupakan aspek batiniah yang menjiwai jasmani atau wadhag manusia yang tersusun empat anasir seperti air, api, angin dan tanah.
Sesuai dengan sifat jasmaniah tersebut manusia memiliki sifat-sifat yang bertalian dengan nafsu yang sangat dipengaruhi oleh sifat anasir tersebut. Anasir api merupakan pangkal nafsu amarah cahanya berwarna merah, anasir tanah sumber dari nafsu aluwamah suka terhadap makanan warna cahaya hitam, sedangkan anasir angin adalah gambaran nafsu supiyah atau kesenangan cahaya berwarna kuning, dan anasir air merupakan sumber nafsu mutmainah suatu nafsu baik gambaran ketenangan warna cahaya adalah putih. Keempat sifat anasir mencerminkan gagasan orang Jawa tentang sifat dan watak yang bersemayam dalam diri manusia yang cenderung bertolak belakang, yaitu ada yang berwatak luhur tetapi ada pula yang sebaliknya.
Susunan anasir yang bersifat horisontal ini merupakan cermin alam mondial, tempat manusia hidup. Untuk mencapai hidup yang sempurna orang Jawa memerlukan ilmu makrifat, berupa wejangan hidayat jati agar dirinya bisa sempurna hidup dan matinya. Secara vertikal tingkatan ilmu gaib dari bawah ke atas merupakan tataran menuju sejatining urip dan sejatining laku sebagaimana tingkatan kesempurnaan manusia sampai dengan tujuh martabat, mulai dari cahaya hingga sampai pada insan kamil. Dengan demikian patung loro blonyo secara mistik merupakan simbol asal usul manusia atau sangkan paraning dumadi, yang terefleksi pada perkawinan lingga dan yoni, lahir dan batin serta antara manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti) sehingga melahirkan kesempurnaan hidup baik berupa keselamatan maupun kemakmuran.
Dalam pandangan hidup orang Jawa patung loro blonyo di tempatkan pada senthong tengah, wilayah ruang yang dianggap suci, sehingga bisa dikatakan jiwa atau rohnya rumah ada di senthong tengah itu. Ruang ini merupakan pusat sangkan paraning dumadi, seperti disebutkan Tremmel (1958) tempat yang suci dan sakral bersifat keilahian. Sebagai jiwa atau rohnya rumah, senthong tengah dimaknai sebagai ruang mediator dalam berkomunikasi dengan dzat gaib. Maka untuk bisa menjembatani dirinya dengan yang gaib dihadirkan perantara berupa sepasang patung loro blonyo, sebagai simbol wadhag bersemayamnya roh atau jiwa yang mencerminkan sifat dzat gaib.
Menurut kawruh kasampurnan Jawa, manusia dipercaya berasal dari dzat gaib, bermula dari awang-awang, sesuatu yang tidak ada (gaib) sebagai perwujudan atau pancaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Keberadaan manusia menguatkan bahwa dzat mutlaklah yang mengadakan dari sesuatu yang semula tidak ada itu. Maka orang Jawa memaknai manusia sebagai kesatuan alam jasmani (kasar) dan alam rohani (alus) keduanya menyatu, melebur dalam kemanunggalan antara jiwa dan raga.
Manusia dikatakan sempurna apabila bisa mencapai pada tujuh tingkatan. Tiga tingkatan pertama menggambarkan unsur manusia yang bersifat batin yaitu sajaratul yaqin, nur Muhammad, mir’atul haya’i, masing-masing berada pada tataran alam ahadiyat, wahdat dan wahidiyat. Tataran ahadiyat merupakan tingkatan alam bersifat sepi dan mutlak sebab tidak dapat dikenal siapapun. Tingkat alam wahdat merupakan hakekat cahaya Muhammaad, sifat nyata pertama. Tingkat alam wahidiyat merupakan hakekat manusia, adalah sifat nyata kedua. Dari ketiga tingkatan yang bersifat batin ini, kemudan melahirkan empat alam yaitu alam arwah, alam mitsal, alam ajsam dan insan kamil. Gambaran alam mitsal masih bersifat susunan halus, ia tidak dapat dipisah dan dibagi-bagi. Berbeda dengan alam ajsam, ia merupakan sesuatu yang sudah diketahui ukuran tebal, tipis dan dapat dibagi-bagi, sedangkan insan kamil merupakan tingkatan paling kasad mata, berupa jasad. Pada tingkatan ketujuh inilah, ia sudah menjadi manusia atau kawula yang sempurna terdiri unsur lahir dan batin, disebut insan kamil atau manusia sempurna.
Laku mistik dipercaya akan bisa menjadi sarana atau media yang bisa mengharmonikan antara diri dan lingkungan termasuk di dalamnya, yaitu makluk gaib atau kekuatan adikodrati (lihat Suhardi, 1993). Dengan laku mistik akan tercipta keselarasan dan keseimbangan sehingga melahirkan keadaan yang diinginkan yaitu rasa tentram, aman dan hidupnya sejahtera selamat terbebas dari gangguan baik yang bersifat kasad mata maupun yang tidak kelihatan. Maka tidak mengherankan apabila setiap fase kehidupan seseorang dalam budaya Jawa dilakukan laku mistik untuk menggapai keselamatan hidupnya terbebas dari segala mara bahaya (sempurna hidupnya).
Ilmu kasampurnan diyakini sebagai petunjuk untuk meraih kesempurnaan hidup dan juga kesempurnaan mati. Sebutan hidayat jati sendiri artinya petunjuk hidup yang sebenarnya atau sejati (Tanojo, 1954). Orang Jawa percaya bahwa dengan memahami dan menerapkan wejangan tersebut maka akan dicapai tingkat kehidupan dan jalan menuju ke Tuhan dengan sempurna. Ada tiga unsur penting yang diwejangankan, pertama adalah hidup, kedua yang menghidupi dan ketiga yang membuat hidup. Hidup adalah pangkal dari setiap kejadian atau asal mula, merupakan tempat pemujaan yang sebenarnya, yang paling luhur, disebut Allah Yang Maha Suci. Kedua yang menghidupi semua ciptaan disebut rasa yang sebenarnya (raos sejati) tidak tercampur apa-apa maka dinamakan Dzat Yang Maha Suci. Ketiga yang membuat hidup yaitu Ingsun atau sukma sejati. Inti dari wejangan ini adalah menerangkan tentang adanya Tuhan yang merupakan benih pertama sebelum benih lainnya atau kemudian (wiji wiradat).
Patung loro blonyo dengan demikian tidak ubahnya sebagai bentuk pernyataan secara kongkrit gagasan atau pandangan hidup Jawa. Secara vertikal patung merupakan susunan atau tahapan menuju ke Esaan Tuhan, sedangkan secara imanen bagian bawah patung mencerminkan lima karakter atau watak Jawa yang dipercaya sebagai kerangka struktur gambaran pemahaman orang Jawa mengenai pandangan hidupnya. Dengan demikian loro blonyo menggambarkan filosofi orang Jawa dalam upayanya menyelaraskan keberadaannya dengan alam semesta dengan dzat yang kuasa agar menjadi insan yang hidup dan matinya sempurna yang dilandasi pada pemahaman terhadap sangkan paraning dumadi (bandingkan Suhardi, 1986).
Dari beberapa deskripsi dan tafsiran pada bagian di atas menunjukkan bahwa sepasang patung loro blonyo yang ditempatkan pada senthong tengah dalam rumah joglo merupakan simbol ajaran sangkan paraning dumadi, suatu ajaran mistik kejawen. Orang Jawa menyadari bahwa asal muasal dan tempat berakhirnya manusia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara lahiriah sangkaning manusa (asal manusia) secara lahiriah merupakan hasil reproduksi antara lingga dan yoni yang direpresentasikan kedua orang tua yaitu ayah dan ibu, sebagaimana dilambangkan pada sepasang patung loro blonyo. Secara batiniah asal wiji atau benih yang disebut wiji kodrat adalah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, pasangan ayah dan ibu yang menurunkan wiji wiradrat hanyalah wadhag yang memperantarai. Oleh karena itu orang Jawa beranggapan bahwa hidup ini hanyalah sebentar ibarat orang bepergian hanya sebatas mampir ngombe, sehingga untuk bisa menyelaraskan hidupnya secara sempurna agar makmur dan selamat (hidup sempurna), dirinya senantiasa melakukan laku mistik, sebagai upaya mendekatkan diri dengan Tuhan (mati sempurna).
DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, H.S. 2000.”Wacana Seni dalam Antropologi Budaya” dalam Ketika Orang Jawa Nyeni (Ahimsa-Putra, ed.). Yogyakarta: Galang Printika

1 komentar:
pak bik apakah tulisan mengenai loroblonyo ini merupakan contoh dari artikel konseptual?
Posting Komentar